Sabtu, 25 Maret 2017

Metode Khusus Pembelajaran PAI



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Secara kata Metodik berasal dari kata Metode yang artinya suatu cara kerja yang sistematik dan umum. Metodik sama artinya dengan Metodologi yaitu suatu penyelidikan yang sistematis dan formulasi metode-metode yang akan digunakan dalam penelitian. Metodik Khusus adalah suatu penyelidikan khusus untuk suatu proyek atau suatu cara dan siasat penyampaian bahan pelajaran tertentu dari suatu mata pelajaran agar siswa dapat mengetahui, memahami, mempergunakan dan menguasai bahan pelajaran tersebut.
Metodik Pengajaran Agama Islam adalah suatu cara menyampaikan bahan pelajaran Agama Islam. Metodik membuat Guru dapat mencapai tujuan dengan cepat dan tepat sehingga hasilnya dapat di yakini dan di periksa kembali. Oleh sebab itu, Guru di tuntut agar menguasai Metodik Pelajaran agar bahan pelajaran yang diajarkan dapat di terima dan di cerna oleh siswa. Pengajaran di harapkan akan berjalan baik di mulai dari metode pengajar, kemudian atas dasar metode yang di pilih itu di persiapkn kegiatan dalam bahan pengajaran tersebut. Dalam hal ini kita perlu mengetahui dan menpelajari Kedudukan dan Prinsip-prinsip Metode Pembelajaran PAI.



1.2 RumusanMasalah
1. Bagaimana Kedudukan Metode Pembelajaran PAI?
2. Jelaskan Prinsip-prinsip Metode Pembelajaran PAI?

1.3 Tujuan
            1. Untuk mengetahui Kedudukan Metode Pembelajaran PAI
            2. Untuk mengetahui Prinsip-prinsip Metode Pembelajaran PAI











BAB I
PEMBAHASAN

2.1 Kedudukan Metode Pembelajaran PAI
a)      Metode sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik
Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode menempati peranan yang tidak kalah petingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar. Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman A.M adalah motif – motif yang aktif dan berfungsinya, karena adanya perangsang dari luar.[1]
b)      Metode sebagai Strategi Pengajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam – macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat.Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai.
c)      Metode sebagai Alat Untuk Mencapai Tujuan
Tujuan adalah suatu cita – cita yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan adalah pedoman yang memberi arah kemana keegiatan belajar mengajar akan dibawa. Artinya, metode harus tidak, maka akan siasialah tujuan tersebut.[2]
2. 2 Prinsip-prinsip Metode Pembelajaran PAI
Metode mengajar yang digunakan dalam situasi mengajar belajar banyak jenisnya, baik yang termasuk metode tradisional maupun metode modern. Oleh karena itu di perlukan prinsip - prinsip yang harus di perhatikan dalammelaksanakan Metode - metode tersebut  karena  Prinsip - prinsip metode pembelajaran tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan erat satu sama lain. Betapapun baiknya metode pengajaran, apabila tidak dibarengi dengan cara belajar yang benar, hasilnya tentu tidak akan seperti yang diharapkan. Dalam metode-metode tersebut terdapat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakannya.[3][3] Prinsip mengajar atau dasar mengajar merupakan usaha guru dalam menciptakan dan mengkondisikan situasi belajar-mengajar agar siswa melakukan kegiatan belajar secara optimal. Usaha tersebut dilakukan guru pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar.
            Penggunaan prinsip mengajar bisa direncanakan guru sebelumnya, bisa pula secara spontan dilaksanakan pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar, terutama bila kondisi belajar siswa sudah menurun. Prinsip-prinsip itu adalah individualitas, motivasi, aktivitas, minat dan perhatian, keperagaan, pengulangan, keteladanan, dan pembiasaan. Prinsip-prinsip tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan erat satu sama lain.  Dengan prinsip-prinsip tersebut diharapkan pengajaran yang diberikan dapat membawa hasil yang memuaskan.[4]



 Adapun prinsip – prinsip tersebut adalah :
1.      Memperhatikan kecenderungan-kecenderungan siswa dalam belajar. Prinsip ini memberi landasan bagi guru untuk memberikan kepada siswa hanya bahan ajar yang sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki, yaitu bakat, minat, lingkungan dan kesiapan, sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari proses pembelajran.[5]
2.      Memanfaatkan aktivitas individual para siswa. Hal ini dapat dilakukan oleh guru dengan melibatkan mereka dalam setiap kegiatan yang dilakukannya, memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan berbuat, serta mendorong mereka untuk dapat mandiri dalam segala hal yang dapat dilakukan dalam belajar mandiri dalam segala hal yang dapat dilakukan.
3.      Mendidik melalui permainan (games) atau menjadikan permainan sebagai sarana pendidikan. Siswa terutama pada usia kanak-kanak dapat belajar ditengah-tengah kegiatan bermain mereka. Dengan bermain, mereka tidak akan merasakan adanya tekanan dan keterpaksaan, tidak pula terikat oleh banyak peraturan yang sering kali menghalangi kebebasan mereka untuk mengaktualisasikan bakat mereka.
4.      Memberi motivasi kepada siswa untuk berbuat, bukan menekannya, sehingga dapat berbuat dengan penuh rasa senang. Biasanya segala sesuatu yang diperbuat dengan rasa senang tidak akan membosankan.
5.      Mengutamakan dunia anak-anak dalam artian bahwa memperhatikan kepentingan mereka dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan dimasa depan, prinsip ini diwujudkan dengan memadukan aspek pembelajaran toeritis dan praktis.

6.      Menciptakan semangat berkoperasi. Misalnya guru berkerjasama dengan siswa, dansebaliknyasertaorang tua dengan guru. Kerja sama yang terakhir biasanya diungkapkan dengan kerjasama antara keluarga dan sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan siswa serta mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang dicita-citakan.
7.      Memberi motivasi kepada siswa untuk belajar mandiri serta memiliki kepercayaan diri untuk melakukan tugas-tugas belajar dan penelitian. Guru hendaknya berusaha agar mereka tidak bersandar kepadanya, kecuali dalam keadaan terpaksa seperti ketika menghadapi kesulitan.
8.      Memanfaatkan segenap indera siswa, sebab pendidikan inderawi merupakan alat menuju pendidikan intelektual.
9.      Individualitas adalah manusia/seseorang yang memiliki pribadi/jiwa sendiri. Kekhususan jiwa itu menyebabkan individu yang satu berbeda dengan individu yang lain.[6]
10.  Kebebasan mengandung 3 aspek self directednest, self discipline and self control.[7]
11.  Lingkungan merupakan faktor yang menentukan menjadi seorang individu kenyataan dengan pembawaan tertentu yang dapat berkembang menjadi bermacam macam kenyataan akibat interaksi dengan lingkungan.
12.  Prinsip globalisai di terapkan dalam pengajaran sebagai akibat dari pengaruh psikologi gestalt dan psikologi totalitas.
13.  Minat dan perhatian merupakan suatu gejala jiwa yang selalu bertalian. Seorang siswa yang memiliki minat dalam belajar, akan timbul perhatiannya terhadap pelajaran yang diminati tersebut. Akan tetapi perhatian seseorang kadang kala timbul dan ada kalanya hilang sama sekali. Suatu saat anak kurang perhatiannya terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru di depan kelas, bukan disebabkan dia tidak memiliki minat dalam belajar, boleh jadi ada gangguan dalam dirinya atau perhatian lain yang mengusik ketenagannya di dalam kelas atau guru kurang dapat memberikan teknik pengajaran yang bervariasi.[8]
14.  Tidak semua siswa mempunyai perhatian yang sama terhadap pelajaran yang disajikan oleh seorang guru. Oleh karena itu diperlukan kecakapan guru untuk dapat membangkitkan perhatian anak didik. Perhatian yang dibangkitkan oleh guru disebut perhatian yang di sengaja, sedangkan perhatian yang timbul dengan sendirinya dalam diri anak tersebut disebut dengan perhatian spontan.[9]
15.  Aktivitas dapat di artikan seperti keaktifan atau kegiatan yaitu dengan melakukan sesuatu yang di bawah ke arah perkembangan jasmani dan rohani.
16.  Motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Motivasi adalah dorongan atau kekuatan yang dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi berhubungan erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat lebih tinggi pada suatu mata pelajaran cenderung memiliki perhatian yang lebih terhadap mata pelajaran tersebut sehingga akan menimbulkan motivasi yang lebih tinggi dalam belajar. Dorongan yang timbul dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu dinamakan motivasi instrisik. Sedangkan dorongan yang timbul karena adanya pengaruh luar disebut dengan motivasi ekstrinsik.[10]



-         Menurut S. Nasution MA motivasi adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat di lakukan nya.
-         Menurut Thomas M.Risk motivasi adalah usaha yang di sadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri murid yang menunjang kegiatan kearah tujuan-tujuan belajar.

Macam-macam motivasi sebagai berikut :
a.    Memberi angka, banyak anak belajar semata-mata untuk mencapai atau mendapatkan angka yang baik. Angka yang baik bagi mereka merupakan motivasi dalam kegiatan belajarnya.
b.    Hadiah, hal ini dapat membangkitkan motivasi yang kuat bagi setiap orang dalam melakukan suatu pekerjaan atau belajar sekalipun.
c.    Persaingan, faktor persaingan sering digunakan sebagai alat untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dilapangan industri, perdagangan dan sekolah.
d.   Tugas yang menantang, memberi kesempatan terhadap anak untuk memperoleh kesuksesan belajar.
e.    Pujian, pujian diberikan ketika pekerjaan atau belajar anak dapat memperoleh hasil belajar yang memuaskan.
f.     Teguran dan kecaman, digunakan untuk memperbaiki kesalahan anak yang melanggar disiplin atau melalaikan tugas yang diberikan.
g.    Hukuman, hal ini diberikan kepada anak yang telah melanggar  peraturan dan ketika itu si anak sudah di beri teguran tetapi tetap melanggar, maka anak itu boleh diberi hukuman.[11]


17.  Korelasi dan konsentrasi dapat menimbulkan tanggapan-tanggapan dalam jiwa murid tentang agama dan pengetahuan umum yang saling berhubungan, bahan pengajaran semakin dikuasai karena sering di bicarakan dalam berbagai mata pelajaran sehingga anak dapat menghayati segala sesuatu secara keseluruhan.
18.  Pengajaran berupa adalah penggunaan alat peraga audiktif dan visual  sebagai bagian dari integral dari pengajaran pada setiap jenis metode                 mengajar.
19.  Perbedaan umur. Sejak dahulu hingga sekarang orang menentukan tingkat kelas murid berdasarkan umurnya, misalnya kelas satu SD terdiri dari anak-anak yang usianya enam tahun. Semua anak-anak yang duduk pada tingkat atau kelas berdasar umur dianggap dapat memperoleh keuntungan yang sama dari pelajaran dan kegiatan-kegiatan yang diberikan dengan metode penyajian yang sama. Ketidakmampuan seseorang menguasai materi yang diberikan dijelaskan secara sederhana bahwa hal itu hanya disebabkan oleh faktor kemalasan. Jadi sama sekali tidak diperhatikan kenyataan bahwa murid-murid berbeda kemampuannya dalam menerima pelajaran atau dengan kata lain tidak dipertimbangkan bahwa anak-anak yang usianya sama tidak selalu memiliki tingkat kematangan belajar yang sama.
20.  Perbedaan intelegensi, Jika kita bandingkan antara yang anak pada dasarnya pandai dengan anak yang kurang pandai maka akan kelihatan beberapa perbedaan sebagai berikut.
Anak yang pandai :
a)      Cepat menangkap isi pelajaran dan Memiliki minat yang luas.
b)      Tahan lama memusatkan perhatian pada pelajaran dan kegiatan.
c)      Dorongan ingin tahu kuat, banyak inisiatip.
d)     Cepat memahami prinsip-prinsip dan pengertian-pengertian.
e)      Sanggup bekerja dengan pengertian abstrak.
f)       Dapat mengkritik diri sendiri, tahu bahwa ia tidak tahu.
 Anak yang kurang pandai berlaku keadaan sebaliknya :
a)  Lambat menangkap pelajaran.
b)  Perhatiannya terhadap pelajaran cepat hilang.
c)  Kurang atau tidak punya inisiatif.
d)  Perbedaan kesanggupan dan kecepatan

21.  Dalam melakukan kegiatan-kegiatan sekolah, kesanggupan dan kecepatan anak berbeda. Anak yang cerdas akan jauh lebih cepat menyelesaikan tugas-tugasnya dalam hitungan daripada anak yang kurang cerdas. Demikian pula dalam berbagai bidang terdapat perbedaan kesanggupan. Namun demikian jarang dijumpai orang yang pandai atau bodoh dalam segala bidang. Yang umum ialah kurang pandai dalam satu atau beberapa bidang tetapi dalam hal ini menunjukkan kesanggupannya.
22.  Homogeneous groupping: tujuan utama dari pengelompokan ini adalah menyatukan murid-murid yang dapat mengambil manfaat dari aktivitas-aktivitas kelompok yang sama. Umumnya pengelompokan ini didasarkan atas kemampuan, bukan atas usia.
23.  Remedial work: cara ini ditempuh bila terdapat kesalahan-kesalahan atau kesulitan-kesulitan yang dibuat atau dihadapi oleh murid secara individual. Mengusahakan pemberian tugas-tugas pelajaran di sekolah: tugas ini bersifat latihan-latihan atau mengulang pelajaran yang sudah dipelajari bagi anak yang kurang, sedang bersifat menambah hal-hal yang belum dipelajari bagi anak yang pandai.[12]
.         Aktivitas
Mengajar adalah proses membimbing pengalaman belajar. Pengalaman itu sendiri hanya mungkin diperoleh bila murid itu dengan keaktifan sendiri bereaki terhadap lingkungannya. Kalau seorang murid ingin belajar memecahkan suatu problem, ia harus berpikir menurut langkah-langkah tertentu kalau ia ingin menguasai suatu keterampilan ia harus berlatih mengkoordinasikan otot-otot tertentu; kalau ia ingin memiliki sikap tertentu, ia haru memiliki sejumlah pengalaman emosional.
Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa belajar itu hanya berhasil bila melalui bermacam-macam kegiatan. Kegiatan tersebut dapat digolongkan menjadi keaktifan jasmani dan rohani. Keaktifan jasmani ialah murid giat dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain-main atau bekerja. Jadi, murid tidak hanya duduk dan mendengar. Murid aktif rohaninya jika daya jiwa anak bekerja sebanyak-banyaknya, jadi anak mendengarkan, mengamati-amati, menyelidiki, mengingat-ingat, menguraikan, mengasosiasikan ketentuan yang satu dengan ketentuan yang lain.
Keuntungan dari penggunaan prinsip aktivitas adalah tanggapan sesuatu dari yang dialami atau dikerjakan sendiri lebih sempurna dan mudah direproduksikan dan pengertian yang diperoleh adalah jelas. Selain itu beberapa sifat watak tertentu dapat dipupuk misalnya: hati-hati, rajin, bertekun dan tahan uji, percaya pada diri sendiri, perasaan sosial dan sebagainya.[13][8]

5.         Peragaan
Peragaan ialah suatu cara yang dilakukan oleh guru dengan maksud memberikan kejelasan secara realita terhadap pesan yang disampaikan sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh para siswa. Dengan peragaan, diharapkan proses pengajaran terhindar dari verbalisme.  Untuk itu sangat diperlukan peragaan dalam pengajaran terutama terhadap siswa ditingkat dasar.
Peragaan meliputi semua pekerjaan indra yang bertujuan untuk mencapai pengertian tentang suatu hal secara tepat. Agar peragaan berkesan secara nyata, anak tidak hanya mengamati benda atau modal yang diperagakan terbatas pada luarnya saja, akan tetapi harus mencapai berbagai segi, dianalisis, disusun dan dibanding-bandingkan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap.
Dasar psikologis azas peragaan tersebut yakni: sesuatu hal akan lebih berkesan dalam ingatan siswa bila melalui pengalaman dan pengamatan langsung anak itu sendiri. Ada dua macam peragaan yaitu peragaan langsung dan peragaaan tidak langsung.[14][9]
6.         Pengulangan
Perlakuan yang dilakukan secara berulang akan melahirkan kebiasaan. Karena kebiasaan adalah perilaku yang diulang. Dengan adanya pengulangan maka akan memudahkan tertanamnya konsep, fakta, informasi, pemahaman, dan  pemikiran ke dalam benak (memori otak) peserta didik.
Para pendidik hendaknya membiasakan dan melakukan pengulangan dalam menanamkan fakta, konsep dan informasi dalam melaksanakan proses pembelajaran kepada para peserta didiknya, hal ini akan lebih efektif dalam memahamkan peserta didiknya tentang apa yang disampaikannya. Pengulangan yang dilakukan secara baik, dengan informasi yang menarik akan membangkitkan motivasi belajar mereka, dan pembelajaran akan lebih bermakna.[15][10]
7.         Keteladanan
Keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontohkan oleh seseorang dari orang lain.  Keteladanan yang dimaksud disini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan islam, yaitu keteladanan yang baik. Keteladanan dapat direalisasikan dengan cara memberi contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun mental dan memiliki akhlak yang baik dan benar. Keteladanan memberikan konstribusi yang sangat besar dalam pendidikan ibadah, akhlak, kesenian dan lain-lain.
8.         Pembiasaan
Pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan ajaran agama islam. Pembiasaan dinilai sangat efektif jika dalam penerapannya dilakukan terhadap peserta didik yang berusia kecil. Karena memiliki “rekaman” ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian yang belum matang, sehingga mereka mudah terlalur dengan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari. Oleh karena itu, sebagai awal dalam proses pendidikan, pembiasaan merupakan cara yang sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral ke dalam jiwa anak. Nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya ini kemudian akan termanifestasikan dalam kehidupannya semenjak semenjak ia mulai melangkah ke usia remaja dan dewasa.[16][11]
Pemilihan metode mengajar yang "tepat" ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu:
1.    Kemampuan atau keterampilan guru.
2.    Kebutuhan peserta didik.
3.    Besarnya kelompok.
4.    Tujuan pelajaran.
5.    Keterlibatan peserta didik.
6.    Kesesuain dengan bahan pelajaran.
7.    Fasilitas yang tersedia.
8.    Waktu yang tersedia.
9.    Variasi pengalaman belajar.
1.      10.                        Keterampilan tertentu dari peserta didik




Menurut Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Saibany, prinsip-prinsip metodologi pendidikan islam adalah : [17] 
1)      Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat anak didiknya.
2)      Mengetahui tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
3)      Mengetahui tahap kematangan, perkembangan, dan perubahan anak didik.
4)      Mengetahui perbedaan-perbedaan individu dalam anak didik.
5)      Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan  bagi anak didik.
6)      Menegakkan uswah hasanah
           


3
 peserta didik.


BAB III
PENUTUP

3.1 kesimpulan
            Kedudukan Metode dalam pembelajaran Dalam kegiatan pembelajaran seorang guru harus berusaha mengatur lingkungan  belajar agar menarik bagi anak didik untuk mencapai tujuan pengajaran yang baik dan sistematis sesuai dengan seperangkat teori dan pengalaman yang dimiliki. Salah satu usahanya adalah dengan memahami kedudukan metode pembelajaran sebagai salah satu komponen keberhasilan dalam proses pembelajaran.
Prinsip umum metode pembelajaran diatas penting dipertimbangkan setiap guru ketika akan melakukan pengembangan metodologi pembelajaran agar setiap penggunaan metode yang diputuskan akan memberikan manfaat yang mampu membawa siswa menuju penguasaan kompetensi yang diharapkan.Jadi, seorang guru perlu megetahui dan memiliki prinsip-prinsip pembelajaran sehingga guru dapat menyusun perencanaan proses pembelajaran dengan baik, bahkan mampu mengimplementasikannya ketika proses pembelajaran berlangsung.










[1]. Arif Armai, 2002,  Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: CIPUTAT PRES, Hal. 227

4.

[5]. Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Kalam Mulia, Hal. 119

[6]. ZakiahDaradjad, 2011, MetodikKhususPengajaran Agama Islam, Jakarta : PT. BumiAksara, Hal. 91

[7]. Tafsir, Ahmad. 2000. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya., Hal. 206

[8]
[9]. Op Cit, ZakiahDaradjad, Hal. 102




[17]. Ramayulis. 2002.  Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, Hal. 46

Tidak ada komentar:

Posting Komentar