TUGAS UAS SUPERVISI PENDIDIKAN
NAMA : RAHMA NUR RANI
NPM : 1411010167
KELAS : PAI C / SEMESTER 5
DOSEN : Dr. Agus Pahrudin, M.Pd
1.
Jelaskan hal – hal berikut ini!
a.
Jelaskan pengertian supervisi pendidikan menurut para ahli?
Berikut
penjelasan mengenai pengertian supervise menurut para ahli:
·
Good
Carter, menyatakan supervise adalah usaha dari petugas – petugas sekolah dalam
memimpin guru - guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran,
termasuk menstimulir, menyeleksi, pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru -
guru dan merevisi tujuan - tujuan pendidikan, bahan - bahan pengajaran, dan
metode mengajar dan evaluasi pengajaran.[1]
·
Kimbal
Wiles, menyebutkan supervise modern dirumuskan sebagai berikut : ”supervision
is assistance in the development of a better teaching learning situation” yaitu
suatu bantuan dalam pengembangan peningkatan situasi belajar mengajar yang
lebih baik.[2]
·
Wilem
Mantja, mengatakan supervise di artikan sebagai kegiatan supervisor yang di
lakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar. Ada 2 tujuan yang harus di
wujudkan oleh supervise, yaitu: perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan.
·
Purwanto
menyatakan bahwa supervise adalah suatu aktivitas pembinaan yang di rencanakan
untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara
efektif.[3]
·
Dalam
bukunya, Adam dan Dicky mendefinisikan supervisi adalah program yang berencana
untuk memperbaiki pengajaran. Program itu pada hakikatnya adalah perbaikan hal
belajar dan mengajar.[4]
b.
Apa yang di maksud supervisi akademik dan supervisi manajerial!
Supervisi akademik adalah fungsi supervisi yang berkenaan dengan
aspek pembinaan dan pengembangan kemampuan profesional guru dalam meningkatkan
mutu pembelajaran dan bimbingan di sekolah. Hal tersebut dapat dilalaksanakan
melalui kegiatan tatap muka atau non tatap muka, melalui kegiatan sebagai
berikut:
·
Pembinaan
·
Tujuan :
Ø Meningkatkan
pemahaman kompetensi guru terutama kompetensi pedagogik dan kompetensi
profesionalisme (Tupoksi guru, Kompetensi guru, pemahaman kurikulum)
Ø Meningkatkan
kemampuan guru dalam pengimplementasian Standar isi, standar proses, standar
kompetensi kelulusan dan standar penilaian (pola pembelajaran KTSP,
pengembangan silabus dan RPP, pengembangan penilaian, pengembangan bahan ajar
dan penulisan butir soal)
Ø Meningkatkan
kemampuan guru dalam menyusun Penelitian Tindakan Kela (PTK)
Supervisi
manajerial atau pengawasan manajerial merupakan fungsi supervisi yang berkenaan
dengan aspek pengelolaan sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan
efisiensi dan efektifitas sekolah yang mencangkup perencanaan, koordinasi,
pelaksanaan, penilaian, pengembangan kompetensi sumber daya tenaga pendidik,
dan kependidikan (Sudjana dkk, 2011:21). Sasaran supervisi manajerial adalah
membantu kepala sekolah dan staf sekolah lainnya dalam mengelola administrasi
pendidikan, seperti:
·
Administrasi kurikulum
·
Administrasi keuangan
·
Administrasi sarana prasarana/perlengkapan
·
Administrasi personal atau ketenagaan
·
Administrasi kesiswaan
·
Administrasi hubungan sekolah dan masyarakat
·
Administrasi budaya dan lingkungan sekolah
·
Aspek-aspek administrasi lainnya dalam upaya
meningkatkan mutu pendidikan.
c.
Jelaskan prinsip – prinsip supervise pendidikan!
Prinsip – prinsip supervise, adalah:
1.
Praktis,
artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.
2.
Sistematis,
artinya dikembangkan sesuai perencanaan program supervise yang matang dari
tujuan pembelajaran.
3.
Obyektif,
artinya masukan sesuai aspek - aspek instrument
4.
Realistis,
artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.
5.
Antisipatif,
artinya mampu menghadapi masalh - masalah yang mungkin akan terjadi.
6.
Konstruktif,
artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses
pembelajaran.
7.
Kooperatif,
artinya ada kerjasama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan
pembelajaran.
8.
Kekeluargaan,
artinya mempertimbangkan saling asah, asih, asuh dalam mengembangkan
pembelajaran.
9.
Demokratis,
artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervise akademik.
10.
Aktif,
artinya supervisor dan guru aktif dalam berpartisipasi
11.
Humanis,
artinya mampu mencipatak hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur
antusias dan penuh humor.
12.
Berkesinambungan
dan terpadu
13.
Komprehensif[5]
d.
Jelaskan dimensi – dimensi substansi supervise akademik dan
supervise manajerial!
Dimensi substansi Supervisi Manajerial
a)
Menguasai
metode, teknik dan prinsip - prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan di sekolah.
b)
Menyusun
program kepengawasan berdasarkan visi, misi, tujuan dan program pendidikan di
sekolah.
c)
Menyusun
metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melak-sanakan tugas pokok dan
fungsi pengawasan di sekolah.
d)
Menyusun
laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program
pengawasan berikutnya di sekolah.
e)
Membina
kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan
manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
f)
Membina
kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah.
g)
Mendorong
guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil - hasil yang dicapainya untuk
menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya di
sekolah.
h)
Memantau
pelaksanaan standar nasional pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk
membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah.
Dimensi substansi Supervisi Akademik
a)
Memahami
konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan
tiap bidang pengembangan di sekolah.
b)
Memahami
konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan
proses pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di sekolah.
c)
Membimbing
guru dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan di sekolah atau mata
pelajaran di sekolah/madrasah berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan
kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP.
d)
Membimbing
guru dalam memilih dan menggunakan strategi, metode, dan teknik pembelajaran
yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui bidang pengembangan di sekolah.
e)
Membimbing
guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk tiap bidang
pengembangan di sekolah.
f)
Membimbing
guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/ bimbingan (di kelas,
laboratorium, dan/atau di lapangan) untuk mengembangkan potensi siswa pada tiap
bidang pengembangan di sekolah.
g)
Membimbing guru dalam mengelola, merawat,
mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/
bimbingan tiap bidang pengembangan di sekolah.
h)
Memotivasi
guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran / bimbingan tiap
bidang pengembangan di sekolah.
2.
Jelaskan metode – metode dan tekhnik supervise akademik dan
manajerial!
a)
Metode
dan tekhnik supervise akademik
Ada beberapa
metode dan tekhnik supervise yang dapat di lakukan pengawas, tekhnik tersebut
dapat di bedakan yakni bersifat individu dan bersifat kelompok. Tekhnik yang
bersifat individu adalah pelaksanaan supervise yang diberikan kepada guru
tertentu yang mempunyai masalah khusus atau perorangan. Sedangkan yang bersifat
kelompok yakni cara pelaksanaan supervise terhadap sekelompok orang yang
dilaksanakan bersama - sama oleh supervisor dengan sejumlah guru dalam suatu
kelompok meliputi pertemuan orientasi bagi guru baru, rapat guru, dsb.[6]
Berikut metode
atau tekhnik yang digunakan :
·
Kunjungan
kelas
·
Pembicaraan
individual
·
Diskusi
kelompok
·
Observasi
kelas
·
Demonstrasi
mengajar
·
Loka
Karya
·
Bulletin
Supervisi
b)
Metode
dan tekhnik supervise manajerial
Supervise manajerial
menitiberatkan pada pengamatan aspek - aspek pengelolaan dan administrasi
sekolah yang berfungsi sebagai pendukung.
Ada beberapa
metode dalam pelaksanaan supervise manajerial, yaitu:
·
Monitoring
dan evaluasi
·
Refleksi
dan focus Group Disscusion
·
Metode
Delpi
3.
Supervise klinik:
a.
Jelaskan konsep supervise klinik!
Supervise klinis dikaitkan dengan istilah “klinik” dalam dunia
kedokteran. Dalam supervise klinis guru disamakan dengan pasien, sedangkan
pengawas disamakan dengan dokter.
Kelebihan supervises klinis dibandingkan dengan pengobatan dokter
adalah bahwa supervisor tidak langsung memberikan obat seperti dokter, tetapi
mengajak guru untuk berdiskusi, mungkin guru memiliki gagasan tersendiri untuk
mengatasi masalahnya.[7]
Supervise klinis sebagai suatu sistem instruksional yang
menggambarkan prilaku supervisor yang memberi dukungan, membantu dan melayani
guru unruk meningkatkan hasil kerja guru dalam mendidik siswa.
Pada dasarnya tujuan umum supervise klinis adalah :
·
Memberi
tekanan pada proses pembentukkan dan pengembangan professional.
·
Memberi
respon terhadap pengertian utama serta kebutuhan guru yang berhubungan dengan
tugasnya.
·
Menunjang
pembaharuan pendidikan serta untuk memerangi kemerosotan
·
Siswa
dapat belajar dengan baik agar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan
maksimal.
·
Kunci
untk meningkatkan kemampuan professional guru.
Sedangkan tujuan khusus supervise klinis antara lain:
·
Menyediakan
feedback yang objektif dari kegiatan guru yang baru saja dilaksanakan
·
Mendiagnosis,
membantu memecahkan masalah mengajar
·
Membantu
guru mengembangkan kemampuan dan keterampilan
·
Sebagi
dasar untuk menilai guru dalam kemajuan pendidikan, promosi, jabatan atau
pekerjaan mereka
·
Membantu
guru untuk mengembangkan sifat positif terhadap pengembangan diri secara terus
menerus.[8]
b.
Jelaskan prosedur supervise klinik!
Adapun langkah - langkah dalam supervise klinis ialah:
·
Tahap
pertemuan awal ( pra- observasi)
Langkah yang
perlu diperhatikan pada tahap ini, adalah:
a)
Supervisor
menciptakan suasana yang akrab bagi guru.
b)
Supervisor
dengan guru membahas rencana pembelajaran yang di buat guru untuk menyepakati
aspek mana yang menjadi focus perhatian supervise, serta menyempurnakan rencana
pembelajaran tersebut.
c)
Supervisor
bersama guru menyusun instrument observasi yang akan digunakan.[9]
·
Tahap
Observasi
Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam observasi, adalah:
a)
Supervisor
menempati tempat yang telah disepakati bersama.
b)
Catatan
observasi harus rinci dan lengkap.
c)
Observasi
harus terfokus pada aspek yang telah di sepakati.[10]
·
Tahap
akhir (feedback)
Pada tahap ini
observasi didiskusikan secara terbuka antara kepala sekolah dengan guru. Adapun
hal - hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
a)
Supervisor
memberikan penguatan terhadap penampilan guru
b)
Kepala
sekolah mengajak guru menelaah tujuan pembelajaran kemudian aspek pembelajaran
yang menjadi focus perhatian dalam supervise.
c)
Menanyakan
perasaan guru tentang jalannya pelajaran.
d)
Supervisor
menunjukkan data hasil observasi yang telah di analisis dan di interpretasikan.
e)
Supervisor
menanyankan kepada guru bagaimana pendapatnya terhadap data hasil observasi dan
analisisnya.
f)
Secara
bersama menentukan rencana pembelajaran selanjutnya.
4.
Bagaimana gambaran pengawas / supervise pada masa lalu dan masa
kini!
Untuk faktor leadership misalnya, dulu sering pengawas itu
berprilaku seolah sedang menyampaikan dogma tertentu, sulit berdiskusi yang dua
arah. namun sekarang, pengawas harus mampu menginspirasi banyak orang di
sekolah binaannya, agar terus berbuat yang terbaik bagi profesi yang sedang
diemban.
Pengawas
jaman dulu juga terbawa gaya menjaga stabilitas, sehingga kalau observasi kelas
akan senang saat menjumpai kelas yang tenang, adem, gak ribut, walaupun di
dalam kelas kadang siswa sedang tertidur sekalipun. Stabilitas identik dengan
ketenangan. Tapi pengawas sekarang beda, kami sudah faham tentang model-model
pembelajaran, kami juga diajarkan paradigma baru pendidikan yang telah berubah
dari teaching menjadi learning. Sehingga akan senang kalau ada kelas yang
ribut, berarti ada learning di dalam kelas itu, diskusi, bermain peran,
demonstrasi, atau memang sedang praktek membuat drama yang skenarionya perang
teluk.
Fokus
pengawas saat ini pada akhirnya memang pendampingan individu. Setiap guru harus
bisa dipastikan pernah mendapatkan pembinaan dari pengawasnya. Hal ini berbeda
dengan pengawas jaman dulu, yang umumnya cuma sampe di ruang kepala sekolah.
5.
Jelaskan:
a.
Kompetensi apa yang harus di miliki oleh pengawas:
Untuk dapat melaksanakan peran-peran tersebut,
supervisor harus memilik beberapa kompetensi dan kemampuan pokok, yaitu
berkaitan dengan subtantive aspect of professional development, dan professional
development competency areas. Berkaitan dengan hakikat pengajaran,
supervisor harus memahami keterkaitan berbagai variabel yang berpengaruh.
a)
faktor-faktor organisasional terutama budaya
organisasi dan keberadaan tenaga profesioanal lainnya dalam lembaga pendidikan,
b)
berkaitan dengan pribai guru berkaitan dengan
pribadi guru, menyangkut pengetahuan guru, kemmapuan membuata perencanaan dan
mengambil keputusan, motivasi kerja, tahapan perkembangan atau kematangan dan
keterampilan guru,
c)
berkaitan dengan support system dalam
pengajaran yaitu kulrikulum, berbagai buku teks, serta ujian-ujian,
d)
siswa sendiri yang keberadaannya di dalam
kelas sangat bervariasi. Dalam hal adult development, supervisor harus
menegtahui tahapan perkembanagan dan kematangan kerja seorang guru, tahapan
perkembangan moral, tahapan pengembangan profesional, serta berbagai prinsip
dab teknik pembelajaran orang dewasa. Supervisor harus mengetahui ukuran
kemajuan dan ke efektifan sebuah sekolah. Hal ini merupakan muara dari kegiatan
yang dilakukan bersama para guru dan kepala sekolah. Selain berkaitan dengan
pembelajaran di dalam kelas, supervisor juga harus siapmembantu kepala sekolah
dalam bidang manajerial secara umum[11]
b.
Tanggung jawab pengawas:
·
Terlaksananya kegiatan supervisi/pengawasan atas pelaksanaan
pendidikan di sekolah/madrasah sesuai dengan penugasannya pada TK, RA, BA,
SD/MI atau SMP/MTs, SMU/SMK/MA, MAK dan MD.
·
Meningkatnya kualitas proses belajar
mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan di sekolah, termasuk
kualitas pendidikan agama.
·
Meningkatnya kualitas guru, siswa, kepala sekolah/madrasah
dan seluruh staf sekolah yang berada dibawah wilayah pembinaannya.
·
Meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana pendidikan di
sekolah/madrasah di wilayah pembinaannya.
·
Terhimpunnya data lengkap tentang:
a)
Jumlah sekolah umum/madrasah,
b)
Jumlah guru, baik NIP 15 maupun NIP 13
c)
Jumlah siswa muslim dan non muslim
d)
Jumlah sekolah yang memiliki ruang ibadah dan yang belum
memiliki,
e)
Jumlah pengawas, dll.
c.
Kewenangan pengawas:
Dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas sekolah, setiap
pengawas memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya. Beberapa kewenangan
yang ada pada pengawas adalah kewenangan untuk:
·
Bersama pihak sekolah yang dibinanya,
menentukan program peningkatan mutu pendidikan di sekolah binaannya.
·
Menyusun program kerja/agenda kerja
kepengawasan pada sekolah binaannya dan membicarakannya dengan kepala sekolah
yang bersangkutan,
·
Menentukan metode kerja untuk pencapaian hasil
optimal berdasarkan program kerja yang telah disusun.
·
Menetapkan kinerja sekolah, kepala sekolah dan
guru serta tenaga kependidikan guna peningkatan kualitas diri dan layanan
pengawas.
d.
Manfaat apa yang diharapkan dari hasil pengawasan:
Menurut Harahap manfaat dari supervise ialah:
·
Dapat
menemukan kegiatan yang sudah dan yang belum sesuai dengan tujuan
·
Dapat
memberikan keterangan tentang apa yang perlu di benahi terlebih dahulu
·
Dapat
mengetahui petugas - petugas seperti guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha
dan penjaga sekolah yang perlu di tata
·
Dapat
mengetahui petugas yang belum dig anti
·
Dapat
mengetahui buku - buku yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
·
Dapat
mengetahui kelemahan kurikulum
·
Dapat
meningkatkan mutu proses belajar mengajar
·
Dapat
memertahankan sesuatu yang sudah baik[12]
e.
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pengawasan:
·
Pengawasan sekolah hendaknya mengacu pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku, dan kebijakan Kantor Dinas Pendidikan Provinsi
/Kota/Kabupaten dengan segenap
jajarannya.
·
Pengawasan sekolah hendaknya merupakan bagian terpadu dari
keseluruhan program pendidikan nasionaldan merupakan seperangkat kegiatan yang terpogram
berdasarkan kebutuhan sekolah, kemampuan, dan fasilitas yang tersedia, serta
ketentuan yang telah ditetapkan.
·
Pengawasan sekolah hendaknya bertujuan membantu tercapainya
situasi belajar mengajar dan kemampuan profesional guru yang makin menunjang
pencapaian tujuan pendidikan.
·
Pengawasan sekolah hendaknya dilaksanakan dengan
memperhatikan lingkungan masyarakat dan
pola budaya yang hidup di dalamnya dan khususnya dalam sekolah (Sub-culture)
·
Pengawasan sekolah hendaknya berorientasi pada tujuan, dan
bersifat flexible dan menggunakan cara-cara kerja ilmiah dalam bidang
pendidikan dan pengajaran relevan.
·
Pengawasan sekolah hendaknya hendaknya mencakup pengawasan
terhadap pelaksanaan pengelolaan
organisasi sekolah dan pelaksanaan kegiatan pengajaran.
·
Pengawasan sekolah hendaknya bersifat kooperatif, konstruktif
, dan profesional dalam arti memberikan pelayanan yang beradab, bermutu dan
tepat waktu.
6.
Jelaskan fungsi - fungsi pengawas sebagai berikut:
a.
Supervisor
Peranan seorang supervisor ialah menciptakan
suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas, dalam
mengembangkan potensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggung jawab.
Suasana yang demikian hanya dapat terjadi bila kepemimpinan dari supervisor itu
bercorak demokratis buka otokratis atau laissez faire. Kebanyakan guru
seolah-olah mengalaami kelumpuhan tanpa inisiatip dan daya kreatip karena
supervisor dalam meletakkan interaksi dan interelasi, yang bersifat mematikan
kemungkinan-kemungkinan perkembangan ini.[13]
b.
Evaluator
Maka pengawas harus melakukan langkah awal, yaitu melakukan
pengukuran seperti kehadiran, kerajinan dan pribadi para guru, tenaga
kependidikan, administrator sekolah dan siswa. Data hasil pengukuran tersebut
kemudian di bandingkan yang akhirnya dilakukan evaluasi. Evaluasi yang bisa
dilakukan , misalnya terhadap program, pelakuan guru terhadap siswa, hasil
belajar, perlengkapan belajar, dsb.
c.
Counselor
Maka seorang pengawas berkewajiban untuk memberikan pembinaan dan
bimbingan kepada para guru dan tenaga kependidikan lainnya. Namun sebelum
memberikan pembinaan dan bimbingan kepada orang lain maka pengawas harus
membina dirinya sendiri.
d.
Motivator
Maka pengawas harus selalu memberikan motivasi kepada guru dan
tenaga kependidikan lainsehingga mereka bersemangat dan bergairah dalam
menjalankan tugasnya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Motivasi bisa
diberikan dalam bentuk hadiah atau hukuman baik hukuman fisik maupun nonfisik.[14]
e.
Konsultan
Dalam KBBI, kata konsultan mengandung makna "Ahli/pakar yang
mempunyai tugas memberi petunjuk, pertimbangan, atau nasihat dalam suatu
kegiatan. Dapat juga dikatakan dalam arti yang sederhana bahwa seorang konsultan
adalah penasehat bagi klien nya. karena klien kita adalah sekolah binaan, maka
seharusnyalah kita pengawas sekolah memahami permasalahan-permasalahan yang ada
di sekolah binaan, utamanya tentang peningkatan mutu atau kinerja sekolah.
7.
Jelaskan program pengawasan sekolah mencakup:
a.
Penilaiaan kinerja
Penilaian kinerja yang akan dilakukan terhadap:
·
Kepala sekolah.
·
Pendidik (guru).
·
Tenaga kependidikan lain (tenaga administrasi, tenaga
laboratorium, dan tenaga perpustakaan).
b.
Pembinaan
Pembinaan yang akan dilakukan terhadap :
·
Organisasi sekolah dalam persiapan menghadapi
akreditasi sekolah
·
Kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi
sekolah.
·
Guru dalam hal perencanaan, pelaksanaan dan penilaian
proses pembe-lajaran/bimbingan berdasarkan kurikulum yang berlaku
·
Tenaga kependidikan lain (tenaga administrasi, tenaga
perpustakaan, tenaga laboratorium).
·
Penerapan berbagai inovasi
pendidikan/pembelajaran
·
Pengawas pada jenjang di
bawahnya dalam bentuk bimbingan untuk melaksanakan tugas pokok kepengawasan.
c.
Pemantauan
Pemantauan yang akan dilakukan terhadap:
·
Pengelolaan dan
administrasi sekolah
·
Pelaksanaan delapan standar nasional
pendidikan
·
Lingkungan sekolah
·
Pelaksanaan ujian sekolah dan ujian nasional
·
Pelaksanaan penerimaan
siswa baru
·
Pelaksanaan kegiatan
ekstrakurikuler dan sarana belajar
Daftar
Pustaka
Ametembun, Supervisi
Pendidikan. Bandung: Suri. 1981.
Anita Lie. Dkk.
Menjadi Sekolah Terbaik. (Jakarta: Tanoto Foundation. 2014)
E. Mulyasa.
Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. (Jakarta: Bumi Aksara. 2013)
Ibrahim Bafadal.
Dasar – Dasar Manajemen dan Supervisi Taman Kanak – kanak. (Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2012)
Ketut Jelantik.
menjadi kepala sekolah yang Profesional. (Yogyakarta. CV. Budi Utama. 2015)
Nadhirin. Supervisi
Pendidikan Interatif Berbasis Budaya. Yogyakarta: Idea Press Yogyakarta. 2009.
Nurkholis. Manajemen
berbasis sekolah. PT. Grasindo.
Piet A.
Sahertian. Frans Mataheru. Prinsip dan Tehnik Supervisi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. 1981
Said Suhi
Achmad. Profesi kependidikan kegiatan 6.
Soetjipto dan
Raflis Kosasi. Profesi Keguruan. (Jakarta: Rieneka Cipta. 2009)
Suharsimi
Arikunto. Dasar - Dasar Supervisi. (Jakarta: Rieneka Cipta. 2004.
Syaiful Sagala.
Supervisi Pembelajaran. (Bandung : Alfabeta. 2010)
Tim Dosen
Administrasi Pendidikan UPI. Manajemen Pendidikan. Bandung. 2015.
[1]
Ibrahim Bafadal, Dasar – Dasar Manajemen dan Supervisi Taman Kanak – kanak,
(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012) h. 72
[2] Tim
Dosen Administrasi Pendidikan UPI, Manajemen Pendidikan, (Bandung, 2015)
h. 312
[3] Ketut
Jelantik, menjadi kepala sekolah yang Profesional, (Yogyakarta, CV. Budi Utama,
2015) h.84
[4] Syaiful
Sagala, Supervisi Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta. 2010) h. 15
[5] Anita
Lie, Dkk. Menjadi Sekolah Terbaik, (Jakarta: Tanoto Foundation, 2014)
h.86
[6]
N.A. Ametembun, Supervisi Pendidikan, (Bandung: Suri, 1981) h. 71
[7] Suharsimi
Arikunto, Dasar - Dasar Supervisi, (Jakarta: Rieneka Cipta, 2004) h.
38-39
[8] Syaiful
Sagala, Supervisi pembelajaran dalam Profesi Pendidikan,
(Bandung:Alfabeta, 2010) h. 195
[9] E. Mulyasa, Manajemen
dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013) h. 250-252
[10] Soetjipto dan
Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta: Rieneka Cipta, 2009) h. 249
[11] Nadhirin, Supervisi
Pendidikan Interatif Berbasis Budaya, Yogyakarta: Idea Press Yogyakarta,
2009, hal 129-130
[12]
Said Suhi Achmad. Profesi kependidikan kegiatan 6. H. 137-138
[13] Piet A.
Sahertian, Frans Mataheru, Prinsip dan Tehnik Supervisi Pendidikan, Surabaya:
Usaha Nasional, 1981, hal. 31-32
[14] Nurkholis, Manajemen
berbasis sekolah, h. 120 -121